
Sebanyak 50 pemanah cilik dari berbagai komunitas di Yogyakarta dan luar daerah menunjukkan kemampuan mereka membidik dengan busur tradisional,pada acara Turnamen Panahan Tradisional 31 Agustus yang lalu di senyum Tamanan,Yogyakarta.
Namun, sorotan utama tertuju pada para juara yang berhasil membuktikan ketangguhan dan ketelitiannya di hadapan banyak orang.
⸻
Elshanum Nadheera, Pemanah Cilik dari Surabaya
Di kategori U9 (usia 7–9 tahun), panggung juara dikuasai oleh Elshanum Nadheera Noveria. Gadis kecil asal Surabaya yang tergabung dalam komunitas SSC (Sunnah Sport Community) ini tampil percaya diri sejak awal pertandingan.
Dengan konsentrasi penuh, Elshanum melepaskan anak panah demi anak panah hingga akhirnya meraih skor tertinggi 40 poin, jauh meninggalkan lawan-lawannya. Senyumnya merekah saat namanya dipanggil sebagai juara pertama.
“Saya senang sekali bisa menang. Tadi sempat deg-degan, tapi saya ingat kata pelatih untuk fokus dan tarik napas pelan sebelum membidik,” ungkap Elshanum polos, sambil menggenggam medali emasnya.
Di posisi kedua, Mush’ab Saifuddin dari Semanggi, Solo, yang mewakili MAC’S, tampil tak kalah bersemangat dengan skor 27 poin. Sedangkan podium ketiga diraih oleh Khodijah, pemanah cilik asal Sleman dari komunitas JJ Stable, yang sukses meraih 25 poin.
⸻
Ahmad Afifuddin, Sang Penakluk U12
Lanjut di kategori U12 (usia 10–12 tahun), nama Ahmad Afifuddin Abdul Roqib mencuri perhatian. Anak asal Makamhaji, Kartasura, Jawa Tengah, ini tergabung dalam Al Madinah Archery. Dengan gaya tenang dan teknik yang matang, Ahmad berhasil mengumpulkan skor 34 poin, menempatkannya di posisi tertinggi.
“Saya latihan hampir setiap minggu. Alhamdulillah bisa juara. Semoga nanti bisa ikut lomba yang lebih besar lagi,” ucap Ahmad penuh semangat saat ditemui usai pengumuman.
Persaingan sengit juga ditunjukkan oleh Queen Aqila Nailulrohman, gadis tangguh dari Sewon, Bantul. Sebagai anggota Zayn Traditional Archery, Queen tampil percaya diri dan mengumpulkan skor 31 poin, memastikan dirinya di podium kedua. Sementara itu, Husaam dari Ngaglik, Sleman, anggota Club Hidayatullah, sukses menyabet juara ketiga dengan skor 29 poin.
⸻
Lebih dari Sekadar Hadiah
Para juara masing-masing kategori tidak hanya pulang dengan medali, tetapi juga uang tunai—Rp250.000 untuk juara pertama, Rp150.000 untuk juara kedua, dan Rp100.000 untuk juara ketiga—serta bebungah dari para dermawan. 8 besar lainnya juga dapat hadiah kecil dari panitia untuk apresiasi kan usaha dan perjuangan dan keberanian mereka.

Namun, bagi banyak peserta, hadiah bukanlah tujuan utama. Lebih dari itu, lomba ini menjadi kesempatan untuk membuktikan diri, mengasah keberanian, dan menjalin persahabatan baru.
Seorang panitia menyampaikan harapannya,
“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan semangat menjaga tradisi. Memanah bukan hanya olahraga, tapi juga bagian dari warisan budaya dan sunnah yang perlu kita lestarikan bersama.”
⸻
Menjaga Warisan, Menumbuhkan Generasi
Kemenangan para juara di Senyum Tamanan menjadi bukti bahwa olahraga panahan tradisional semakin digemari generasi muda. Dengan penuh semangat, mereka bukan hanya memperebutkan medali,tetapi juga membawa pesan penting: warisan budaya ini akan terus hidup melalui tangan-tangan kecil yang penuh harapan.
Acara pun ditutup dengan senyum lebar para pemenang yang mengangkat medali mereka tinggi-tinggi. Di balik setiap anak panah yang melesat, tersimpan keyakinan bahwa masa depan panahan tradisional ada di pundak anak-anak bangsa. (FZ)

